Membuat pesawat bertenaga karet?

Membuat pesawat bertenaga karet?
Buat kamu yang bercitacita ingin menjadi seperti Baharuddin Jusuf Habibie? Tak perlu menunggu hingga kuliah ke luar negeri. Kamu yang masih bersekolah, baik di sekolah menengah pertama (SMP) ataupun sekolah menengah atas (SMA), bisa memulainya sekarang. Kamu tinggal punya hobi memainkan pesawat mainan. Emang bisa? Pasti bisa. Pesawat mainannya, bukan pesawat mainan biasa.

Bukan pula pesawat aeromodelling yang menggunakan remote control, yang harganya pasti mahal. Dengan uang Rp 50 ribu, kamu sudah bisa membuat beberapa pesawat model jenis ini. Kamu tinggal menggeluti hobi pesawat aeromodels bertenaga karet. Harganya sangat murah. Untuk membuatnya, kamu dipaksa untuk mengetahui sedikit demi sedikit ilmu kedirgantaraan, termasuk cara-cara merakit pesawat yang benar.

”Kalau sayap miring sedikit saja, pesawat akan jatuh,” ujar Luthfi OC Tafian (16 tahun), siswi kelas IPA 3 SMAN 12 Bandung. Lutfi mengaku baru pertama kali memainkan pesawat jenis ini. Menurut Lutfi, memainkan pesawat model ini tidak harus selalu laki-laki. Sebagai perempuan, Lutfi mengaku sangat tertarik sekaligus penasaran setiap kali merakit pesawat yang sangat sederhana ini.

Menurut dia, untuk merakit pesawat ini harus menggunakan hitung-hitungan matematika, ditambah sedikit kemampuan fisika. Soalnya, pesawat tidak akan terbang jika penempatan sayap ataupun ekor pesawat tidak seimbang dan tidak mengikuti kaidah aerodinamika.

Hal serupa dikemukakan Iftinan Septalianti (12), siswa kelas 1 SMP Muhammadiyah Antapani, Bandung. Pesawat rakitan Iftinan hanya mampu terbang selama 50 detik. ”Tapi, saya senang, soalnya sebelumnya hanya tiga detik,” ujar dia.

Untuk unjuk kebolehan, mereka mengikuti kompetisi Pesawat Model Tenaga Karet Tingkat Nasional 2009 yang diselenggarakan Pengurus Besar Federasi Aero Sport Indonesia (PB FASI), Dirgantara Aero modelling Club (DAMC), dan PT Dirgantara Indonesia (PTDI). Kompetisi diadakan di eks-Satuan Pemeliharaan (Sathar) 15 Benghar PT Dirgantara Indonesia, Bandung, pada Ahad (24/5). riffa anggaditya

Cara Membuat

Kamu tahu tidak, kalau pesawat terbang yang ada sekarang berawal dari penemuan pesawat terbang bertenaga karet. Wright bersaudara, Wilbur dan Orville, yang menjadi orang pertama yang menerbangkan pesawat, awalnya terinspirasi dari pesawat model tenaga karet yang dibawa ayahnya, Bishop Milton Wright.

Awalnya, seorang ilmuwan kebangsaan Prancis bernama Alphonse Penaud, pada 1871 secara mengejutkan dapat menerbangkan pesawat tenaga karet sejauh 40 meter. Pesawat model yang diberi nama planophoneitu tercatat sebagai penerbangan yang pertama dari suatu kestabilan alamiah pesawat model yang lebih berat daripada udara. Setelah melihat demonstrasi pesawat tenaga karet Penaud itu, produsen mainan dari Prancis segera mengawali membuat mainan pesawat terbang tenaga karet. Salah satu mainan yang paling populer saat itu adalah helikopter tenaga torsi.

Apa itu pesawat tenaga karet? Pesawat ini lazimnya sebuah pesawat terbang yang mempunyai sayap, ekor, dan tenaga penggerak berupa karet (karet khusus yang dinamakan karet tan, red). Karet tan ini memiliki kelebihan dari karet biasa, karena bisa melar hingga enam kali lipat dari karet biasa dan tidak putus. ”Kalau pesawat aeromodelslain menggunakan baterai, pesawat ini menggunakan putaran lilitan karet sebagai tenaga penggerak balingbaling,” jelas Kak Agus Sudarmawan, ketua Panitia Kompetisi Pesawat Tenaga Karet.

Untuk membuat pesawat ini dibutuhkan kayu balsa, kertas seperti tisu jepang atau plastik, karet tan, kawat baja dan propeler (baling-baling). Kayu balsa dipotong sesuai bagian pesawat, yaitu bodi, sayap, dan ekor. Sayap dan ekor lalu dilapisi kertas atau plastik.

Beberapa komponen pesawat model ini kemudian dirangkai. Propeler dihubungkan pada kawat baja. Karet tan dikaitkan pada kawat baja bagian depan yang juga terhubung pada baling-baling dan kawat baja lainnya yang diletakkan di bagian belakang ( rubber hook). Pesawat ini kemudian didesain dengan menggunakan perhitungan dan kaidah aerodinamika. ”Sebuah pesawat dapat terbang, karena memiliki gaya angkat yang dihasilkan oleh sayap pada kecepatan tertentu,” ujar kak Agus.

Kecepatan itu tergantung dari berat pesawat yang telah ditetapkan, sehingga menghasilkan daya dorong pesawat. Pada tingkat yang sangat sederhana, daya dorong tersebut bisa ditimbulkan oleh putaran karet yang terpasang.

Prinsip kerja tenaga karet yaitu pita karet dilipat menjadi empat dengan satu ujung belakang dikaitkan dengan pengait tetap dan ujung depan dikaitkan dengan sumbu propeler. Untuk menghasilkan tenaga, karet ini diputar sesuai desain model pesawatnya dan kemudian dilepaskan guna memutar propeler. Putaran propeler ini menghasilkan daya untuk mendorong pesawat bergerak ke depan.

”Tapi banyak juga yang menggunakan beberapa alat, seperti dinamo atau pemutar bor untuk memutarkan karet,” jelas Kak Agus. Menurut Kak Agus, performa sebuah pesawat model tenaga karet dapat dilihat dari lamanya terbang, kecepatan terbang, ketinggian terbang, dan jangkauan terbangnya. Namun yang sering dilombakan adalah lamanya terbang atau endurance.

Kak Agus menambahkan lamanya terbang pesawat sangat tergantung dari kestabilan pesawat. Tapi, kata dia, jika pesawat itu terbang hanya sebentar, berarti tidak stabil. Menurut dia, ketidakstabilan pesawat terbang ini disebabkan banyak faktor. Antara lain badan pesawat terbuat dari batangan kayu balsa yang ringan, tipis, dan lentur, putaran karet yang berlebihan, posisi pusat gravitasi, dan kombinasi dari pusat gaya aerodinamika pesawat. rfa

Ingin Merancang Pesawat Tempur

Memainkan pesawat aero modelsbertenaga karet sangat mengasyikkan. Mulai dari merancang hingga menerbangkannya, dibutuhkan ketelitian hingga kreativitas.”Supaya terbangnya lebih lama, kami mencoba mengakali bagian sayap,” ujar Muhammad Iqbal (16 tahun), siswa kelas II IPA 4 SMAN 12 Bandung.

Pesawat Iqbal hanya terbang 10 detik. Saat terbang, pesawat itu terlihat tidak stabil. Untuk itu, Iqbal pun mencoba untuk mensiasatinya dengan menipiskan bagian sayap. Berbeda dengan Iqbal, Gini Arimbi (20), mahasiswi Teknik Sipil ITB ini membuat alat ukur sekaligus alat pemutar karet. Bersama ayahnya, Budiharto (66), Arimbi membuatnya dengan hanya menggunakan kalkulator, dinamo, dan magnet.

Dengan alat ukur ini, kata Arimbi, bisa diketahui seberapa banyak putaran lilitan karet. Jika hal itu sudah diketahui, maka bisa diprediksi besaran tenaga yang akan dihasilkan ‘mesin’ pesawat ini yang hanya terbuat dari karet. ”Kalau putarannya terlalu besar, karet bisa putus,” ujar dia.

Berbeda dengan Arimbi, merakit pesawat model bertenaga karet ini merupakan ‘pelampiasan’ atas hobi yang selama ini digeluti oleh Muhammad Fajar (17), siswa kelas 2 IPA I SMAN 12 Bandung. Fajar mengaku sangat hobi mengumpulkan gambar-gambar pesawat tempur. Ia mengambilnya di internet. ”Saya sampai tahu seluruh spesifikasi pesawat tempur zaman perang dunia kedua hingga pesawat tercanggih,” ujar Fajar.

Bahkan, Fajar mengaku sangat terinspirasi dengan berbagai modelmodel pesawat tempur yang ia lihat di internet saat merakit pesawat model bertenaga karet ini. Fajar bercita-cita ingin menjadi ahli pesawat seperti mantan presiden BJ Habibie. ”Tapi, saya ingin menjadi perancang pesawat tempur,”pungkas dia. Menurut dia, keinginannya ini didasarkan pada masih minim dan tuanya pesawat-pesawat tempur yang dimiliki TNI Angkatan Udara

Tentang mailandanu

Cute, Imoet, dan luthu
Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s